




Pulau Tidung merupakan bagian dari Kepulauan Seribu - Jakarta. Dahulu orang lebih mengenal satu saja pulau dari Kep. Seribu yakni Pulau Bidadari. Namun saat ini, pariwisata di pulau-pulau lainnya telah semakin berkembang, termasuk Pulau Tidung.
Tidak sulit mencari paket-paket wisata ke Pulau Tidung melalui internet. Seperti yang kami lakukan, kami mendapatkan informasi wisata ini dari internet.
Biaya wisata yang ditawarkan beragam sesuai dengan budget kita, mulai dari 250 sampai 900 ribu rupiah per orang. Semakin banyak tim/rombongan yang berwisata, biayanya pun semakin murah. Namun karena kami hanya tiga orang, yakni saya, suami dan anak saya berusia 5 tahun, maka biaya yang dikenakan adalah 500ribu rupiah untuk saya dan suami serta 250ribu rupiah untuk anak saya (discount 50%), total 1 juta 250ribu rupiah.
Biaya ini adalah untuk paket wisata:
1. Transportasi kapal pulang-pergi. Melalui travel tersebut seharusnya kami naik kapal dari Muara Angke yang dikelola swasta, dengan lama perjalanan sekitar 3 jam. Kami merasa waktunya terlalu lama untuk perjalanan itu, maka kami mengajukan untuk menggunakan kapal dari Marina Ancol yang dikelola oleh Dept. Perhubungan. Lama perjalanan hanya sekitar 1,5 jam. Pihak travel mengiyakan, maka biaya kapal pp dikurangi dari total biaya yang harus kami bayar.
2. Welcome drink. Setibanya di penginapan kami langsung disajikan welcome drink berupa air kelapa muda hijau langsung dari batok kelapanya. Segar sekali...
3. Penginapan 2 hari 1 malam. Penginapan ini bukan hotel/motel, namun hanya home stay, rumah penduduk yang digunakan untuk menginap oleh wisatawan. Rumah yang kami tempati terdiri dari 3 kamar tidur. Sebenarnya kamarnya sendiri hanya 1, 2 kamar lainnya adalah ruang tamu serta dapur yang disulap jadi seperti kamar, namun tanpa pintu atau sekat penutup untuk privasi. Jadi yang bisa jadi ruang kamar sesungguhnya hanya 1 saja.
Untuk rombongan, hal ini tentu menguntungkan. Itulah mengapa biaya wisata ini akan lebih murah jika semakin banyak anggota dalam rombongan. Bagi kami yang hanya bertiga, banyaknya tempat tidur tidaklah berpengaruh apa-apa, karena toh anak saya juga tidak akan mau tidur terpisah di sebuah rumah yang baru saja ia datangi.
4. Makan 3x yakni makan siang setibanya di penginapan, malam hari dan saat sarapan keesokan paginya. Catatan bagi saya untuk next vacation saya tidak akan terlalu berharap menikmati makanan ala hotel baik dari segi menu maupun rasa, karena memang yang menyediakan bukan ahlinya. Jika memungkinkan saya akan membawa makanan yang awet untuk minimal 2 hari seperti sambal kering ikan teri, rendang, dsb. (Untungnya pada saat itu saya membawa abon kemasan dari rumah).
5. Sepeda sebagai alat transportasi di pulau. Waktu itu kami menggunakannya untuk perjalanan ke Jembatan Cinta yang jaraknya sekitar 1 km dari penginapan.
6. Peralatan snorkeling dan kapal ke lokasi snorkeling yang dituju. Kapal tersebut lumayan besar, bisa menampung sekitar 25 orang.
7. Barbecue (bakar ikan) di malam harinya.
8. Guide selama di Pulau Tidung, mulai dari tiba di pulau sampai kita mendapatkan tiket untuk pulang dan diantar ke dermaga.
Untuk menyeberang ke Pulau Tidung kami menumpang kapal dari Dermaga Marina Ancol. Kapal ini hanya menampung 20 orang penumpang dari Ancol dan 5 orang lainnya dari pulau-pulau di Kep. Seribu dimana kapal ini singgah . Karena kapasitasnya sedikit maka untuk mendapatkan tiket kapal yang dijadualkan berangkat pukul 7 pagi tersebut kami harus antri dari jam 5 pagi. Setibanya di depan loket pun ternyata sudah ada beberapa orang di depan kami yang sudah antri lebih awal. Wuih... perjuangan yang mestinya cukup worth it untuk mendapatkan tiket menyebrang.
Setibanya kami di Pulau Tidung, kami belum bisa melihat keistimewaan pulau ini. Namun begitu kami diajak bersepeda menuju Jembatan Cinta, sebuah jembatan yang menghubungkan 2 pulau yakni Tidung Besar (dimana kami menginap) dan Tidung Kecil, segera kami melihat pesona pulau ini. Entah mengapa namanya Jembatan Cinta, mungkin jembatan ini banyak kali menjadi saksi janji cinta setia antara sepasang kekasih disana. Saya pun tidak tahu persis berapa panjang jembatan itu, mungkin sekitar 1 km. Jembatan ini memberikan spot-spot yang indah untuk foto-foto.
Yang tak kalah istimewanya adalah laut serta pantai dibawah jembatan tersebut, pasirnya putiiihh..., airnya jernih, pantulan warna biru dari langit membuatnya begitu menggoda untuk dinikmati. Tak heran saat kami disana, beberapa orang wisatawan tampak berenang tepat di bawah jembatan. Bahkan mereka lebih menikmatinya dengan melompat langsung dari jembatan ke laut itu. Wah... asyik sekali!!!
Siang harinya kami dijadualkan untuk snorkeling di tepi laut di Pulau Payung. Perjalanan menuju lokasi menggunakan kapal kurang lebih 20 menit. Ini pun tak kalah asyiknya. Air laut begitu jernih, terumbu karang masih cukup indah, walaupun tidak begitu tampak lagi warna-warninya. Ikan-ikan masih sangat banyak. Untuk bisa menikmati pemandangan ikan-ikan yang berenang dekat kita, kita bisa memancing mereka dengan memberikan makan berupa roti atau biskuit yang dihancurkan.
Baik saya, suami maupun anak saya yang berumur 5 tahun tidak punya pengalaman sama sekali dalam hal snorkeling ini. Apalagi anak saya sangat takut berenang di kolam renang, apalagi di laut. Namun entah mengapa, di laut ini dia cukup berani untuk berenang. Mungkin karena penasaran untuk melihat ikan-ikan yang sudah kami ceritakan sebelumnya. Untungnya, guide kami sangat baik. Mungkin dia tahu, kami masih awam, tak mungkin mendampingi anak kami untuk sama-sama snorkeling. Maka sepanjang waktu snorkeling, dialah yang dengan sabar mendampingi anak kami. Alhasil anak kami begitu menikmati aktivitas snorkeling ini bahkan sampai ketagihan dan berani dilepas (tidak dipegangi lagi oleh guide). Sebuah keajaiban juga buat kami.
Sekitar 2 jam kami menikmati air laut, keindahan pemandangan bawah laut dan interaksi dengan ikan-ikan yang begitu indah dan berwarna-warni. Menjelang sore hari kami kembali ke penginapan.
Malam harinya, kami diajak menikmati suasana pantai dengan bakar-bakar ikan. Saat itu ikannya adalah ikan tongkol yang baru saja dibeli dari nelayan. Masih sangat segar. Bumbu ikannya sederhana, namun karena masih segar dan air laut yang masih bersih, kami rasa daging ikan ini begitu enak dan manis. Ini adalah kegiatan terakhir kami di Pulau Tidung.
Esok paginya kami harus sudah siap-siap pulang menumpang kapal menuju Marina Ancol sekitar jam 9 pagi. Tiket kapal ini sudah dipesankan kepada guide untuk dibeli di lokasi sebelum kami tiba sehingga pada saat akan pulang, tiket sudah tersedia. Kami sudah kadung memesan tiket kapal pagi. Seandainya kami tahu masih ada hal menarik yang bisa kami lakukan di pulau ini, pasti kami sudah memesan tiket siang untuk pulang.
Dari pengalaman ini, saya dapat informasi bahwa untuk penyebrangan dari dan ke Pulau Tidung bisa menggunakan dua sarana. Pertama, menggunakan kapal dari Marina Ancol (penyebrangan 2x sehari, jam 7 pagi dan jam 12 siang). Kedua, dengan kapal milik swasta dari Muara Angke. Penyebrangan dijadualkan setiap 1 jam, tidak perlu antri untuk beli tiket dil loket. Siapa cepat itu dapat.
Selama di pulau Tidung, kami ditemani tidak hanya oleh guide tapi juga oleh tetua setempat yang kerap membantu kami yakni Bpk. Pendy. Beliau adalah tetua yang juga bisa diistilahkan sebagai koordinator lapangan untuk wisata di Pulau Tidung tersebut. Ia sudah puluhan tahun menjadi nelayan, namun seiring dengan semakin pesatnya perkembangan pariwisata di Pulau Tidung, ia pun kini lebih fokus pada bidang jasa pariwisata di pulau yang sudah menjadi kampung halamannya sejak dulu itu.
Menurut informasi yang disampaikannya, jika saja waktu kami lebih lama, maka snorkeling lebih enak jika dilakukan pada pagi hari (hari ke-2). Selain cuaca dan angin lebih mendukung, juga spot yang kami datangi bisa 3 lokasi (3 pulau). Dari lokasi snorkeling kami bisa diajak ke sebuah pulau yang terdapat penangkaran penyu serta pulau lainnya yang ada penangkaran ikan hiu. Wah, sayang sekali kami harus melewatkan pengalaman itu. Maklumlah, kami masih baru, sehingga banyak informasi yang belum kami ketahui sehingga mempengaruhi management waktu selama disana.
Masih menurut Bpk. Pendy, pada hari-hari libur atau weekend, pulau Tidung bisa didatangi hingga 7000 wisatawan. Mencengangkan. Maka di lokasi snorkeling, bisa ratusan kapal yang sandar membawa wisatawan untuk berenang di laut. Bisa bayangkan berapa orang yang snorkeling? Hm... Tak hanya itu, pada nalam harinya, saat barbecue time, sepanjang pantai akan penuh dengan wisatawan yang menggelar tikar untuk menikmati ikan bakar bersama rombongannya.
Untungnya saat itu kami datang pada hari Kamis-Jumat, sehingga pulau ini tidak terlalu ramai dengan pengunjung. Kami bisa lebih leluasa untuk foto-foto di Jembatan Cinta dan snorkeling di tepi Pulau Payung.
Over all, kami sangat menikmati liburan di Pulau Tidung dan tak sabar rasanya untuk bisa kembali lagi ke tempat ini. Terutama anak kami. Ada dampak sangat positif sepulangnya dari liburan tersebut. Ia jadi berani berenang bahkan tanpa kami dampingi di kolam sekalipun. Padahal lsebelumnya dia paling takut berenang di kolam renang, hanya mau di kolam buatan (plastik) yang untuk rumahan. Ajaib...
Well... semoga informasi & pengalaman saya ini bermanfaat untuk anda. Pokoknya, Pulau Tidung adalah tempat wisata yang sangat recommended!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar